Wednesday, February 26, 2025

REVIEW YOUR FRIENDLY NEIGHBORHOOD SPIDER-MAN: SERIAL SPIDER-MAN TERBAIK DENGAN GAYA KLASIK!





Setelah menonton 10 episode penuh dari YOUR FRIENDLY NEIGHBORHOOD SPIDER-MAN, saya semakin yakin bahwa hero-hero ‘street level’ Marvel memang lebih cocok dikemas dalam format serial dibandingkan film layar lebar. Dengan format ini, cerita dan karakter bisa dieksplorasi lebih dalam, tanpa harus terburu-buru seperti dalam film.

Alur Cerita yang Solid dan Menarik

Awalnya, saya mengira serial ini akan mengikuti format episodik di mana setiap episode memiliki cerita terpisah yang bisa ditonton secara acak. Namun, ternyata YOUR FRIENDLY NEIGHBORHOOD SPIDER-MAN hadir dengan alur yang berkesinambungan sepanjang 10 episode. Ini berarti kita harus mengikuti dari awal hingga akhir untuk mendapatkan pengalaman penuh dari ceritanya.

Menurut saya, ini adalah pilihan tepat karena memungkinkan karakter Spider-Man untuk berkembang dengan lebih alami. Setiap episode membangun konflik yang semakin kompleks, membuat kita semakin terikat dengan cerita.

Kekuatan Naskah dan Universe-Building yang Memukau

Salah satu keunggulan utama dari serial ini adalah bagaimana tim penulisnya berhasil menghadirkan cerita yang segar tetapi tetap familiar bagi para penggemar Spider-Man. Bagi mereka yang telah mengikuti berbagai versi Spider-Man dari komik hingga animasi, serial ini tetap terasa menarik dan tidak membosankan.

Universe Spider-Man di serial ini pun digarap dengan detail yang membuatnya terasa kaya dan hidup. Tidak hanya karakter utamanya yang dikembangkan dengan baik, tetapi juga para hero lain yang muncul dalam serial ini mendapat porsi yang pas dan tetap mempertahankan nuansa klasiknya.

Visual dan Gaya Animasi yang Unik

Dari segi visual, YOUR FRIENDLY NEIGHBORHOOD SPIDER-MAN memiliki daya tarik tersendiri. Animasi yang digunakan mengadaptasi gaya strip komik klasik yang bergerak, memberikan nuansa retro yang sangat khas. Bisa dibilang ini adalah Spider-Verse versi klasik, dengan warna-warna yang bold dan desain karakter yang old-school.

Bahkan, hero-hero lain yang muncul dalam serial ini tetap menggunakan kostum klasik mereka, seperti Doctor Strange, Iron Man, dan Daredevil. Hal ini menambah nilai nostalgia yang membuat serial ini semakin istimewa.

Perubahan Gender dan Ras pada Karakter

Salah satu hal yang sempat menjadi perbincangan di kalangan penggemar adalah perubahan gender atau ras pada beberapa karakter yang sudah dikenal. Namun, menurut saya, ini bukanlah masalah besar. Perubahan tersebut dilakukan dengan alasan yang masuk akal dalam alur cerita, sehingga tidak terasa dipaksakan. Daripada berfokus pada perubahan ini, lebih baik menikmati bagaimana karakter-karakter tersebut berkembang dalam cerita.

Kesimpulan dan Skor Akhir

Secara keseluruhan, saya hampir tidak memiliki keluhan tentang serial ini. Dari segi cerita, animasi, hingga pembangunan universe, semuanya terasa matang dan digarap dengan penuh perhatian terhadap detail. Bahkan, saya berani mengatakan bahwa satu musim penuh YOUR FRIENDLY NEIGHBORHOOD SPIDER-MAN ini jauh lebih baik dibandingkan trilogi Spider-Man Tom Holland jika digabungkan sekalipun! Ya, sebagus itu!

Bagi kamu yang belum menonton, serial ini sangat direkomendasikan dan bisa ditonton di Disney Plus. Saya memberikan skor 9,5/10!


Saturday, February 22, 2025

REVIEW FILM RAHASIA RASA: THRILLER KULINER DENGAN SENTUHAN KONSPIRASI


Film Rahasia Rasa menghadirkan premis yang unik: perpaduan antara dunia kuliner dan thriller konspirasi. Dengan gaya yang mengingatkan pada National Treasure atau Da Vinci Code, film ini mencoba mengeksplorasi warisan resep Indonesia dengan pendekatan yang tidak biasa. Namun, apakah eksekusinya berhasil?

Sinopsis: Perjalanan Chef dalam Mencari Rasa dan Misteri

Resso (atau Roso), seorang chef perfectionist yang memiliki trauma terhadap bumbu lokal, tiba-tiba kehilangan indera perasanya setelah mengalami kecelakaan. Kariernya yang gemilang pun terancam berakhir. Dalam upaya mencari solusi, ia kembali ke kampung halamannya dan secara tidak terduga menemukan misteri tersembunyi di balik buku resep legendaris Mustika Rasa. Perjalanannya tidak hanya menjadi pencarian rasa, tetapi juga membuka tabir konspirasi yang berkaitan dengan sejarah kuliner Indonesia.

Eksekusi Konsep: Antara Thriller dan Kuliner

Salah satu daya tarik utama Rahasia Rasa adalah idenya yang segar: menggabungkan unsur kuliner dengan investigasi penuh intrik. Namun, eksekusinya terasa sedikit ambisius. Film ini lebih condong ke genre thriller dibanding eksplorasi dunia kuliner. Jika Anda mengharapkan pengalaman foodporn yang menggugah selera, mungkin akan sedikit kecewa karena atmosfer misteri lebih dominan.

Meski begitu, beberapa elemen thriller berhasil dieksekusi dengan baik. Beberapa adegan aksi—terutama tembak-menembak—bahkan cukup intens dan mengejutkan, memberikan nuansa yang jarang ditemukan dalam film bertema kuliner.

Pacing dan Atmosfer: Awal yang FTV-ish, Akhir yang Menegangkan

Pada bagian awal, Rahasia Rasa memiliki nuansa drama yang mengingatkan pada FTV. Konflik personal Resso terhadap bumbu lokal dan trauma masa lalunya terasa sedikit berlebihan, namun justru bisa menjadi daya tarik bagi penonton awam.

Ketegangan mulai meningkat saat elemen konspirasi dan misteri diperkenalkan. Penonton akan dibawa dalam petualangan penuh teka-teki, yang meskipun terasa sedikit dibuat-buat, tetap mampu menjaga rasa penasaran hingga akhir.

Visual dan Sinematografi: Makanan yang Menggoda, Misteri yang Mendominasi

Dari segi visual, film ini memiliki sinematografi yang cukup apik. Pengambilan gambar makanan benar-benar menggugah selera, meskipun sayangnya, aspek ini tidak terlalu menjadi fokus utama. Sebaliknya, pencahayaan dan tone warna yang digunakan lebih mendukung nuansa misteri dan thriller.

Karakter dan Akting: Protagonis yang Tidak Sepenuhnya "Putih"

Karakter utama, Resso, tidak digambarkan sebagai sosok yang sempurna. Hal ini menjadi poin menarik karena memberikan dimensi lebih dalam pada perjalanannya. Namun, di sisi lain, perannya dalam konflik utama terasa kurang kuat. Chemistry antar karakter juga tidak terlalu mencolok, meskipun akting para pemain cukup solid.

Kesimpulan: Thriller Kuliner yang Layak Dicoba

Secara keseluruhan, Rahasia Rasa adalah film yang menawarkan sesuatu yang berbeda. Perpaduan antara kuliner dan thriller konspirasi memang bukan kombinasi yang umum, dan meskipun eksekusinya belum sepenuhnya mulus, film ini tetap memberikan pengalaman yang menarik.

Jika mencari film dengan eksplorasi kuliner yang dalam, mungkin ini bukan pilihan yang tepat. Namun, jika Anda ingin menikmati thriller dengan sentuhan budaya kuliner Indonesia, Rahasia Rasa bisa menjadi alternatif tontonan yang seru.

Rating: 6.5/10

Friday, February 21, 2025

HOROR BUDAYA TIONGHOA DALAM PERNIKAHAN ARWAH

Pernikahan Arwah (The Butterfly House) adalah film horor terbaru dari Entelekey Media Indonesia dan Relate Films yang akan tayang di bioskop mulai 27 Februari 2025. Film ini mengangkat tradisi kuno Tionghoa, yaitu pernikahan arwah, dengan cerita yang berfokus pada pasangan Salim dan Tasya yang mengalami teror dari arwah leluhur keluarga. Meskipun berlatar budaya Tionghoa, sutradara Paul Agusta menegaskan bahwa inti ceritanya bersifat universal, mengangkat konflik antara kepercayaan leluhur dan keinginan pribadi.

Film ini sebagian besar mengambil lokasi syuting di Lasem, Jawa Tengah, yang dikenal dengan arsitektur dan tradisi Tionghoa yang masih kental. Produser Perlita Desiani mengungkapkan bahwa pemilihan lokasi bertujuan untuk menghadirkan nuansa autentik dalam film, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Lasem kepada penonton. Dengan pendekatan ini, Pernikahan Arwah menawarkan pengalaman horor yang lebih mendalam, tidak hanya dari sisi ketegangan tetapi juga unsur budaya yang kuat.

Dibintangi oleh Morgan Oey, Zulfa Maharani, Jourdy Pranata, Brigitta Cynthia, dan Verdi Solaiman, film ini menghadirkan kisah yang dekat dengan realitas banyak orang. Morgan Oey menyebut bahwa konfliknya tentang memilih antara keluarga dan pasangan sangat relevan, sementara Zulfa Maharani menyoroti makna cinta sejati dan perjuangan dalam hubungan. Para pemain optimis bahwa film ini akan dapat dinikmati oleh berbagai kalangan, tidak hanya pecinta horor.

Dalam sinopsisnya, Salim dan Tasya kembali ke rumah keluarga Salim untuk mengurus pemakaman bibinya sekaligus menjalani foto pre-wedding. Namun, Salim harus menjalankan ritual keluarganya dengan membakar dupa di altar misterius atau nyawanya akan terancam. Kehadiran mereka membangkitkan arwah leluhur yang meninggal di masa pendudukan Jepang dan mulai meneror mereka. Demi menyelamatkan Salim, Tasya berusaha mengungkap misteri keluarganya dan mencari cara agar mereka bisa terbebas dari teror tersebut.

Thursday, February 20, 2025

REVIEW THE GORGE: KETIKA ROMANCE, ACTION, DAN HORROR BERSATU!



Apple TV+ kembali menghadirkan film terbaru yang cukup unik berjudul THE GORGE. Film ini dirilis pada Valentine’s Day, yang sekilas memberi kesan bahwa ini adalah film romantis. Tapi ternyata, Scott Derrickson—sutradara spesialis horror yang terkenal lewat Sinister dan The Black Phone—membawa sesuatu yang berbeda. THE GORGE menggabungkan elemen romance, action, dan thriller, dengan sentuhan horror yang khas. Lalu, apakah film ini layak ditonton? Simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Sinopsis: Cinta di Tengah Misi Misterius

Film ini berfokus pada kisah Levi (diperankan oleh Miles Teller), seorang sniper veteran yang ditugaskan menjaga pos di sebuah jurang misterius. Jurang tersebut dihuni oleh makhluk mengerikan yang disebut Hollow Man. Awalnya, Levi mengira dirinya bertugas sendirian, hingga ia mengetahui bahwa ada sniper lain di pos seberangnya, yaitu Drasa (Anya Taylor-Joy).

Seiring berjalannya waktu, hubungan mereka berkembang lebih dari sekadar rekan kerja. Namun, semakin dalam mereka terlibat, semakin banyak pula misteri yang terungkap. Ternyata, ada konspirasi besar di balik tugas mereka, dan hal itu mengancam nyawa mereka berdua.

Tone Shifting yang Menarik

Salah satu kekuatan utama THE GORGE adalah perubahan tone yang drastis. Awalnya, film ini terasa seperti kisah romantis yang manis, namun seiring berjalannya cerita, suasana berubah menjadi thriller penuh aksi dan ketegangan. Sutradara Scott Derrickson benar-benar memanfaatkan keahliannya dalam menciptakan atmosfer horror dengan beberapa jumpscare yang cukup mengejutkan.

Buat yang mengharapkan film dengan alur yang stabil, mungkin tone shifting ini bisa terasa agak tiba-tiba. Namun bagi yang suka kejutan dalam cerita, perubahan ini justru jadi daya tarik tersendiri.

Chemistry Pemain & Adegan Aksi

Miles Teller dan Anya Taylor-Joy punya chemistry yang cukup unik. Mereka tidak terlalu memaksakan romantisme, tapi interaksi mereka terasa alami. Salah satu hal menarik adalah aksi cekatan Anya Taylor-Joy yang mengingatkan kita pada perannya sebagai Furiosa di Furiosa: A Mad Max Saga.

Sayangnya, latar belakang karakter mereka terasa kurang digali. Penonton mungkin akan penasaran dengan masa lalu Levi dan Drasa, namun film ini lebih fokus pada hubungan mereka saat ini ketimbang eksplorasi karakter yang lebih dalam.

Konspirasi yang Kurang Dimaksimalkan

Salah satu kelemahan THE GORGE adalah elemen konspirasi yang kurang digali dengan baik. Film ini lebih berfokus pada hubungan antara dua karakter utamanya, sehingga konflik utama yang sebenarnya bisa lebih kompleks terasa hanya sebagai latar belakang saja. Jika Anda mengharapkan plot penuh intrik dan kejutan besar, mungkin akan merasa sedikit kurang puas.

Scoring yang Kurang Menyatu

Musik latar dalam film ini digarap oleh Trent Reznor & Atticus Ross, yang biasanya menghasilkan scoring yang luar biasa. Namun kali ini, musik mereka terasa kurang menyatu dengan beberapa adegan, terutama dalam transisi antara romance dan thriller.

Kesimpulan: Layak Ditonton atau Tidak?

THE GORGE adalah film yang unik dengan kombinasi romance, thriller, dan action yang jarang ditemukan. Jika Anda suka film dengan pace yang dinamis, aksi yang seru, dan nuansa horror yang mencekam, film ini bisa jadi pilihan menarik. Namun, jika Anda mencari cerita dengan kedalaman karakter dan plot konspirasi yang kuat, mungkin akan merasa ada sesuatu yang kurang.

Rating: 7/10 ⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐☆☆☆

Film ini tetap layak untuk ditonton, terutama jika Anda ingin menikmati sesuatu yang berbeda dari film romance pada umumnya. Dengan visual yang keren, adegan aksi yang mendebarkan, dan chemistry yang cukup baik antara dua pemeran utama, THE GORGE bisa jadi tontonan seru untuk mengisi waktu luang kamu!

Saturday, February 15, 2025

REVIEW FILM NETFLIX: THE MOST BEAUTIFUL GIRL IN THE WORLD (TeMBiGiW) – ROM-COM FRESH DI AWAL 2025!


Netflix kembali menghadirkan film rom-com yang menarik perhatian, kali ini dengan judul yang cukup unik, The Most Beautiful Girl in the World atau disingkat TeMBiGiW , seperti yang dikatakan oleh Sheila Dara. Judulnya memang terdengar sedikit “apasih”, tapi ketika melihat jajaran cast-nya yang solid—terutama duet Reza Rahadian dan Sheila Dara—saya langsung penasaran.

Dan setelah menontonnya, ternyata film ini berhasil memberikan kesegaran baru untuk trope klasik "benci jadi sayang"!

PLOT YANG KLISÉ TAPI PUNYA SENTUHAN SEGAR

Film ini disutradarai oleh Robert Ronny dan mengisahkan Reuben (Reza Rahadian), seorang produser TV yang mendapat amanat dari mendiang ayahnya untuk segera menikah. Tapi alih-alih mencari pasangan dengan cara biasa, ia justru terlibat dalam acara kencan yang ia produseri sendiri!

Di sisi lain, ada Kiara (Sheila Dara), seorang produser muda yang ambisius dan ingin membuktikan kemampuannya di industri media. Seiring berjalannya cerita, hubungan mereka yang awalnya penuh persaingan mulai berkembang ke arah yang lebih personal.

Salah satu kejutan dalam film ini adalah adegan ketika mereka terdampar di sebuah pulau. Awalnya, elemen ini terasa agak bertabrakan dengan setting utama yang berada di dunia broadcasting. Tapi, untungnya film ini mampu merangkai momen-momen tersebut dengan baik, sehingga ceritanya tetap konsisten hingga akhir.

AKTING SOLID DAN CHEMISTRY YANG KUAT

Tak bisa dipungkiri, kekuatan utama dari TeMBiGiW adalah akting dari kedua pemeran utamanya. Reza Rahadian dan Sheila Dara punya chemistry yang natural, membuat dinamika karakter mereka terasa hidup dan menyenangkan untuk diikuti.

Momen-momen yang seharusnya terasa cheesy atau klise pun berhasil dieksekusi dengan baik, berkat akting mereka yang penuh emosi dan tidak berlebihan. Ditambah lagi, karakter mereka terasa relatable—tidak terlalu dibuat-buat seperti dalam banyak rom-com lainnya.

VISUAL YANG MEMANJAKAN MATA

Dari segi sinematografi, TeMBiGiW menawarkan tampilan yang enak dipandang. Pemilihan warna dan tone dalam film ini sangat mendukung mood cerita, baik dalam adegan romantis maupun komedik. Beberapa adegan di pulau juga berhasil memberikan suasana yang berbeda tanpa terasa out of place.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

KELEBIHAN:

✔️ Chemistry Reza Rahadian dan Sheila Dara yang kuat
✔️ Maneuver cerdas dalam menghindari klise rom-com
✔️ Visual menarik dengan tone warna yang mendukung cerita
✔️ Plot ringan tapi tetap engaging

KEKURANGAN:

❌ Beberapa konflik terasa kurang dewasa dibandingkan usia karakternya
❌ Isu keberanian berkomitmen yang diangkat tidak terlalu dalam

KESIMPULAN: WORTH IT UNTUK DITONTON?

Sebagai tontonan pembuka tahun 2025, The Most Beautiful Girl in the World adalah rom-com yang manis dan menyegarkan. Meski mengusung trope klasik, eksekusi yang baik serta akting solid dari para pemerannya membuat film ini terasa fresh dan menyenangkan.

Dengan semua kelebihannya, saya memberikan rating 7.5/10. Jika kamu mencari film ringan tapi tetap berkualitas, TeMBiGiW bisa jadi pilihan yang tepat!

Friday, February 14, 2025

NETFLIX RILIS FILM THE MOST BEAUTIFUL GIRL IN THE WORLD, KOMEDI ROMANTIS PENUH MAKNA







Netflix menggelar Konferensi Pers dan Gala Premiere The Most Beautiful Girl in the World di Metropole XXI, Jakarta, pada 13 Februari 2025. Film yang disutradarai oleh Robert Ronny ini mulai tayang di Netflix pada 14 Februari 2025. Film komedi romantis ini mengisahkan Reuben, seorang playboy sekaligus pewaris kerajaan media yang harus menemukan "gadis tercantik di dunia" demi mendapatkan warisan. Dalam perjalanan tak terduga, ia terdampar di sebuah pulau bersama Kiara, seorang produser TV yang ambisius, dan mereka harus bekerja sama untuk bertahan hidup.

Dalam konferensi pers, Robert Ronny mengungkapkan bahwa film ini ingin menggambarkan kompleksitas cinta di era modern. Bersama Titien Wattimena dan Ifan Ismail, ia menulis cerita tentang bagaimana standar kecantikan telah berubah dan sering kali memberikan tekanan yang tidak realistis terhadap perempuan. Ia juga menekankan bahwa kecantikan dan cinta tidak seharusnya saling berkaitan, karena cinta lebih dari sekadar penampilan fisik.

Film ini juga menyoroti perbedaan sosial melalui karakter utamanya. Reuben berasal dari keluarga kaya raya, sedangkan Kiara adalah pegawai TV yang berjuang dalam kariernya. Namun, ketika semua atribut sosial dilepaskan, mereka menyadari bahwa mereka sebenarnya tidak terlalu berbeda. Situasi di pulau terpencil memungkinkan mereka untuk melihat satu sama lain sebagai manusia seutuhnya, tanpa embel-embel status sosial.

Para pemeran seperti Reza Rahadian dan Sheila Dara Aisha turut berbagi pengalaman mereka dalam membintangi film ini. Reza mengungkapkan bahwa ia sudah lama menantikan kembalinya genre komedi romantis ke perfilman Indonesia. Sheila menambahkan bahwa interaksi antar karakter dalam film ini terasa sangat alami dan membuat setiap tokohnya tampak seperti manusia yang utuh.

Selain Reza dan Sheila, film ini juga dibintangi oleh Jihane Almira Chedid, Dea Panendra, Bucek, Kevin Julio, dan Ira Wibowo. Mereka berbagi pengalaman seru saat syuting, termasuk adegan-adegan yang penuh kehangatan dan kekocakan. Dengan balutan komedi romantis, film ini tidak hanya menghibur tetapi juga mengangkat isu-isu penting tentang cinta, kecantikan, dan peran perempuan dalam masyarakat modern. Jangan lewatkan penayangannya mulai 14 Februari 2025, hanya di Netflix!

Saturday, February 1, 2025

REVIEW FILM PERAYAAN MATI RASA: LEBIH DARI SEKADAR DRAMA ANAK BAND!

Film Perayaan Mati Rasa awalnya terkesan seperti kisah anak muda yang berontak dan ngejar mimpi di dunia musik. Tapi ternyata, film ini punya lebih banyak lapisan emosi—ada tawa, ada amarah, dan tentu saja, ada duka yang bikin kita ikut merasakan setiap konfliknya.

Dari drama keluarga, konflik band, hingga momen kehilangan, film ini berhasil mengemas semuanya dalam cerita yang dinamis dan menyentuh. Lantas, apakah film ini worth it buat ditonton? Simak review lengkapnya di bawah ini!

Sinopsis Singkat

Film ini bercerita tentang Ian Antono (Iqbaal Ramadhan), seorang remaja yang sedang berusaha mengejar karier musiknya bersama band Midnight Serenade. Namun, di balik kecintaannya terhadap musik, Ian harus menghadapi tekanan dari ayahnya yang menuntutnya menjadi anak sulung yang lebih bertanggung jawab.

Konflik semakin pelik ketika sang ayah tiba-tiba menghilang, sementara ibu mereka harus menjalani perawatan akibat serangan jantung mendadak. Tak ingin membuat ibunya semakin shock, Ian dan adiknya, Uta (Umay Shahab), berusaha menyembunyikan fakta bahwa ayah mereka sudah tidak ada.

Dari sinilah berbagai konflik mulai bermunculan—hubungan Ian dan Uta yang penuh tekanan, masalah dengan major label yang ingin mengubah identitas band mereka, hingga perjuangan Ian dalam menghadapi realitas hidup yang keras.

Konflik dan Keunikan Film

Yang membuat Perayaan Mati Rasa menarik adalah bagaimana film ini membagi konflik dengan porsi yang cukup seimbang. Tidak hanya fokus pada satu aspek, film ini berani mengeksplorasi berbagai lapisan emosi dalam cerita.

Beberapa hal yang menonjol dari film ini:

  • Konflik Keluarga yang Relatable: Hubungan antara Ian dan Uta terasa sangat realistis, terutama dalam hal perbandingan antara kakak dan adik yang sering terjadi di dunia nyata.
  • Dinamika Anak Band: Film ini juga menyajikan sisi dunia musik yang menarik, dari serunya nge-band bareng teman-teman hingga konflik dengan industri yang ingin mengatur segalanya.
  • Eksperimen Audio yang Unik: Ada teknik vacuum audio dalam beberapa adegan yang membuat kita bisa merasakan suara-suara di kepala Ian. Ini menambah kesan psikologis yang kuat dalam cerita.
  • Metafora Kedalaman Laut: Film ini juga menggunakan konsep "kedalaman laut" sebagai metafora untuk menunjukkan perjalanan emosional karakternya, meskipun aspek ini terasa kurang dieksplor lebih jauh.

Akting dan Chemistry Para Pemain

Dari segi akting, chemistry antar pemain terasa sangat natural, terutama antara Iqbaal Ramadhan dan Umay Shahab yang berperan sebagai kakak-adik. Interaksi mereka terasa nyata dan emosional, membuat hubungan mereka menjadi salah satu aspek terbaik dalam film ini.

Selain itu, anggota band Midnight Serenade juga memberikan warna tersendiri. Randy Danistha (Nidji) sering mencuri perhatian dengan celetukannya yang menghibur, sementara Prisicilla Jamail sayangnya kurang mendapat porsi peran yang cukup signifikan.

Kesimpulan: Worth It atau Tidak?

Dengan cerita yang kuat, konflik yang relatable, serta penyajian yang kreatif, Perayaan Mati Rasa berhasil menjadi film yang lebih dari sekadar drama anak band biasa. Film ini menawarkan pengalaman emosional yang cukup dalam, dengan sentuhan komedi yang segar.

Rating: 7.5/10 ⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐½

Kalau kamu suka film dengan drama keluarga yang menyentuh dan cerita yang nggak klise, Perayaan Mati Rasa layak banget buat ditonton!