Saturday, July 4, 2026

IYUS JENIUS HADIRKAN PETUALANGAN MUSIKAL DENGAN LAGU-LAGU LEGENDA PAPA T.BOB



Film musikal anak IYUS JENIUS resmi meluncurkan official poster dan teaser perdananya menjelang penayangan di bioskop pada 10 September 2026. Film garapan sutradara Achmad Romie ini diproduksi oleh Gandhi Fernando melalui Creator Media bersama Maxstream TV Studios, Serujuga Film Studio, dan Frontline Pictures. Mengusung lagu-lagu legendaris Papa T.Bob, film ini hadir sebagai tontonan keluarga yang memadukan hiburan dengan pesan positif untuk anak-anak.

Official poster menampilkan Iyus yang diperankan Kevin Abadio bersama Babah T.Bob duduk di tengah hamparan sawah hijau dengan nuansa hangat dan penuh warna. Sementara itu, teaser memperkenalkan kisah Iyus, bocah berusia 10 tahun yang mengalami penurunan prestasi di sekolah setelah kehilangan ayahnya. Hidupnya berubah ketika sebuah kecelakaan membuatnya koma, lalu setelah sadar ia bertemu Babah T.Bob, sosok teman imajiner yang membantunya menghadapi rasa kehilangan, perundungan, kesepian, hingga keraguan terhadap dirinya sendiri.

Melalui perpaduan drama keluarga, petualangan, fantasi, dan musikal, IYUS JENIUS menghidupkan kembali lagu-lagu Papa T.Bob dalam aransemen baru. Di balik kisahnya, film ini mengangkat berbagai nilai pendidikan karakter, mulai dari kepercayaan diri, empati, keberanian menghadapi tantangan, semangat belajar, hingga pentingnya dukungan keluarga dalam proses tumbuh kembang anak.

Dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 10 September 2026, IYUS JENIUS diharapkan menjadi pilihan tontonan keluarga yang hangat dan bermakna. Selain menghadirkan nostalgia melalui lagu-lagu Papa T.Bob, film ini juga mengajak anak-anak untuk berani bermimpi dan percaya pada kemampuan diri sendiri, sekaligus mengingatkan para orang tua bahwa setiap anak memiliki proses belajar dan berkembang yang berbeda.

Friday, June 26, 2026

JAFF MARKET 2026 HADIRKAN PELUANG BARU BAGI KREATOR DAN INVESTOR FILM



Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) kembali menghadirkan JAFF Market sebagai pasar film terbesar di Indonesia yang kini menjadi salah satu agenda industri perfilman paling penting di kawasan Asia. Memasuki edisi ketiga, JAFF Market kembali bekerja sama dengan Amar Bank sebagai mitra utama dan akan berlangsung pada 28–30 November 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta. Ajang ini menjadi wadah yang mempertemukan kreator, produser, investor, distributor, hingga berbagai institusi pendukung untuk memperkuat kolaborasi industri film nasional.

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menegaskan dukungan pemerintah terhadap JAFF Market sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem perfilman Indonesia. Menurutnya, Indonesia tidak hanya ingin menjadi pasar bagi film dunia, tetapi juga meningkatkan kapasitas produksi, distribusi, dan pembiayaan agar semakin banyak karya lokal mampu bersaing di tingkat internasional. Ia menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar industri film tumbuh secara inklusif dan berkelanjutan.

Optimisme tersebut diperkuat dengan performa industri film Indonesia sepanjang semester pertama 2026. Berdasarkan data Cinepoint, sebanyak 13 film Indonesia berhasil menembus satu juta penonton sebelum paruh pertama tahun berakhir, menjadi rekor tercepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Market Director JAFF Market, Linda Gozali, menilai industri kini memasuki fase yang lebih matang, di mana tantangan utamanya bukan lagi sekadar memproduksi film, tetapi memastikan proyek memiliki akses terhadap pendanaan, pasar, dan peluang kolaborasi yang lebih luas.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, JAFF Market 2026 kembali menghadirkan berbagai program unggulan yang mencakup seluruh rantai nilai industri, seperti Film Industry Exhibitions, JAFF Future Project, Talent Day, Film Lab, Film & Market Conference, Market Screening, Company Showcase, Networking Events, serta JAFF IP Connection. Festival Director JAFF, Ifa Isfansyah, menilai Indonesia memiliki talenta dan kekayaan intellectual property (IP) yang besar, namun masih membutuhkan infrastruktur industri yang mampu menghubungkan pelaku kreatif dengan investor dan pasar secara berkelanjutan.

Kemitraan JAFF Market dengan Amar Bank juga diperluas melalui kolaborasi bersama Badan Perfilman Indonesia dan sejumlah asosiasi perfilman untuk memperkuat kapasitas industri lokal serta mendorong inovasi pembiayaan bagi sektor kreatif. Selain itu, JAFF Market terus memperluas jejaring internasional dengan berpartisipasi dalam berbagai forum industri global seperti Marché du Film, Asian Contents & Film Market, dan Asia TV Forum & Market guna mempromosikan kreator dan IP Indonesia sekaligus membuka peluang kolaborasi di pasar internasional.

Thursday, June 25, 2026

PETAKA GUNUNG WELIRANG, HOROR PENDAKIAN BERDASARKAN KISAH NYATA



Petaka Gunung Welirang menjadi film horor terbaru produksi Starvision yang akan tayang di bioskop Indonesia mulai 2 Juli 2026. Disutradarai oleh Indra Gunawan dan diproduseri Chand Parwez Servia, film ini diangkat dari kisah nyata pengalaman pendakian Maya Azka di Gunung Welirang, Jawa Timur. Naskahnya ditulis oleh Upi, menghadirkan perpaduan horor, misteri, dan drama persahabatan dalam latar pendakian gunung yang penuh teror gaib.

Film ini mengikuti perjalanan lima sahabat—Satria, Naya, Arga, Noval, dan Tita—yang merayakan kelulusan dengan mendaki Gunung Welirang menjelang Malam 1 Suro. Namun, perjalanan mereka berubah menjadi mimpi buruk saat memasuki kawasan misterius bernama Alas Lali Jiwo. Suara gamelan yang terdengar dari tengah hutan menjadi awal dari serangkaian kejadian mistis yang membuat mereka tersesat dan terpisah dalam dimensi teror yang sulit dijelaskan.

Teror yang dihadirkan dalam film ini berakar pada berbagai mitos yang selama ini melekat pada Gunung Welirang. Penonton akan diperkenalkan pada sosok Ratu penjaga istana gaib beserta para penarinya, bunyi gamelan misterius yang menghantui, hingga fenomena alam yang membuat para pendaki kehilangan arah pulang. Unsur-unsur tersebut membangun suasana mencekam sekaligus memperkuat nuansa mistis yang menjadi daya tarik utama film.

Meski menawarkan horor yang intens, Petaka Gunung Welirang juga menyoroti tema persahabatan dan perjuangan melawan ego. Saat Arga, Satria, dan Naya berusaha keluar dari Alas Lali Jiwo, Noval dan Tita yang tertinggal terus berupaya mencari sahabat-sahabat mereka. Menurut Chand Parwez Servia, kisah tersebut menjadi inti emosional film yang mengangkat nilai kepercayaan, pengorbanan, dan pentingnya saling menjaga dalam situasi sulit.

Para pemain juga menyoroti pesan moral yang terkandung dalam cerita. Antonio Blanco Jr. mengungkapkan bahwa film ini mengajarkan pentingnya menghormati kepercayaan lokal dan mengendalikan ego, sementara Giulio Parengkuan dan Alika Jantinia menekankan nilai kejujuran, solidaritas, serta pentingnya saling percaya. Dengan memadukan kisah nyata, survival di alam liar, dan teror supranatural yang kuat, Petaka Gunung Welirang berusaha menghadirkan pengalaman horor pendakian yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga menyentuh secara emosional.



FENOMENA VIRAL CEK KHODAM DIANGKAT KE LAYAR LEBAR




Fenomena viral “cek khodam” yang sempat ramai di media sosial Indonesia kini diadaptasi menjadi film horor komedi berjudul Cek Khodam produksi Dee Company. Film yang dijadwalkan tayang di bioskop mulai 16 Juli 2026 ini menawarkan premis yang unik dengan membalik konsep horor pada umumnya. Jika biasanya manusia yang takut pada makhluk gaib, kali ini justru para penghuni dunia khodam yang panik karena manusia semakin tidak takut kepada mereka.

Film ini berlatar pada kondisi kehidupan modern yang membuat ketakutan manusia terhadap hal-hal mistis terus menurun. Tekanan sehari-hari seperti cicilan, tagihan, dompet kosong, hingga datangnya tanggal tua dianggap lebih menakutkan dibanding dunia gaib. Akibatnya, dunia khodam berada di ambang krisis karena eksistensi mereka bergantung pada rasa takut manusia.

Kisahnya mengikuti tiga sahabat yang tanpa sengaja terseret ke dalam konflik besar antara dunia manusia dan dunia khodam. Di tengah ancaman kepunahan, para penghuni dunia gaib berusaha mempertahankan keberadaan mereka. Beragam karakter unik seperti Noni Belanda, Genderuwo, Pocong Karuhun, dan penghuni dunia khodam lainnya hadir bukan untuk meneror manusia, melainkan berjuang menyelamatkan dunia mereka sendiri.

Cek Khodam juga menjadi debut layar lebar bagi Jirayut setelah dikenal sebagai penyanyi dan presenter. Menurut produser Dheeraj Kalwani, film ini lahir dari fenomena yang dekat dengan masyarakat dan dikembangkan menjadi tontonan yang segar, lucu, serta relevan dengan kehidupan saat ini. Selain menghadirkan komedi dan petualangan, film ini juga menyindir realitas modern, bahwa ketakutan terbesar manusia kini sering kali bukan berasal dari makhluk gaib, melainkan dari berbagai persoalan hidup sehari-hari.

Monday, June 15, 2026

DUKUN MAGANG RESMI TAYANG, PADUKAN TEROR GAIB DAN HUMOR DALAM SATU CERITA






Dukun Magang siap hadir di bioskop Indonesia sebagai film komedi horor yang lebih mengutamakan tawa daripada teror. Mengusung komposisi sekitar 80 persen komedi dan 20 persen horor, film ini menawarkan pengalaman menonton yang ringan dengan sentuhan suasana mistis melalui ritual gaib, desa terpencil, rumah tua, dan gangguan makhluk halus.

Disutradarai oleh Chiska Doppert, film ini mengikuti kisah Raka Mahardika, seorang mahasiswa tingkat akhir yang skeptis terhadap hal-hal mistis. Demi menyelesaikan skripsinya yang terus ditolak, Raka memilih meneliti dunia perdukunan di Desa Kalimati. Bersama sahabatnya yang penakut, Boiman, dan Sekar yang memiliki keterkaitan dengan desa tersebut, Raka justru terjebak dalam berbagai kejadian aneh dan harus menghadapi teror Kuntilanak Hitam.

Film ini dibintangi oleh Jefan Nathanio, Hana Saraswati, dan Fajar Nugra, serta didukung sederet aktor dan komika seperti Dodit Mulyanto, Mo Sidik, Wira Nagara, dan Mang Osa. Kehadiran para pemain komedi menjadi kekuatan utama film ini, menghadirkan banyak momen lucu di tengah situasi mistis sehingga cerita terasa menghibur tanpa meninggalkan nuansa horor.

Diproduksi oleh Dens Vision Multimedia bersama Wahana Pictures, Dukun Magang memiliki durasi 100 menit dengan naskah yang ditulis oleh Endik Koeswoyo, Mo Sidik, dan Adi Nugroho. Selain menyajikan hiburan, film ini juga mengangkat benturan antara logika modern dan kepercayaan tradisional melalui perjalanan sang tokoh utama. Dengan perpaduan komedi yang dominan dan horor yang ringan, film ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 18 Juni 2026.

Thursday, June 4, 2026

NIGHT SHIFT FOR CUTIES, SURAT CINTA UNTUK PERSAHABATAN DAN FANDOM K-POP


Night Shift for Cuties, serial orisinal terbaru Netflix Indonesia, resmi tayang mulai 4 Juni 2026. Mengusung cerita yang youthful, penuh warna, dan dekat dengan budaya fandom K-Pop, serial ini mengikuti kisah dua sahabat, Muti (Shenina Cinnamon) dan Jenar (Nadya Syarifa), yang bekerja di sebuah minimarket Korea dan sama-sama mengidolakan girl group Purple Tea. Di tengah keterbatasan ekonomi dan berbagai masalah pribadi, keduanya berjuang untuk mewujudkan mimpi bertemu idola yang menjadi sumber semangat hidup mereka.

Sutradara Monica Vanesa Tedja mengungkapkan bahwa serial ini berangkat dari ketertarikannya terhadap perubahan positif yang dialami seorang teman setelah menjadi penggemar K-Pop. Menurutnya, Night Shift for Cuties tidak hanya berbicara tentang fandom, tetapi juga tentang persahabatan perempuan yang penuh dinamika, pertengkaran, dan emosi, namun tetap dibangun atas rasa cinta dan kepedulian yang kuat. Bersama penulis naskah Aline Djayasukmana, Mica juga berupaya menghadirkan perspektif yang lebih segar melalui representasi karakter dan dunia idol yang tidak selalu mengikuti standar industri.

Shenina Cinnamon mengaku tertarik memerankan Muti karena karakter tersebut menghadirkan sisi fangirl yang belum pernah ia mainkan sebelumnya. Muti digambarkan sebagai perempuan muda yang harus memikul tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga, sekaligus berusaha mengejar kebahagiaan pribadinya. Sementara itu, Nadya Syarifa merasa sangat dekat dengan karakter Jenar karena pengalaman hidup dan perjuangan yang dialaminya memiliki banyak kesamaan dengan dirinya, termasuk soal rasa percaya diri dan tekanan dari lingkungan sekitar.

Di balik layar, produksi Night Shift for Cuties juga menghadirkan tantangan tersendiri, terutama dalam menciptakan lagu dan koreografi untuk Purple Tea. Produser Kevin Ryan Himawan menyebut proses tersebut sebagai pengalaman kolaboratif yang menyenangkan. Mica sendiri menyebut serial ini sebagai surat cinta untuk para penggemar K-Pop, sekaligus kisah yang membahas berbagai isu seperti kepercayaan diri, hubungan keluarga, persahabatan, dan tekanan saat beranjak dewasa. Dengan delapan episode yang penuh emosi, Night Shift for Cuties kini sudah dapat disaksikan secara global di Netflix.

MONSTER PABRIK RAMBUT: HOROR DUNIA KERJA YANG DIBUNGKUS FANTASI RETRO



Monster Pabrik Rambut, film terbaru garapan sutradara Edwin dan diproduksi oleh Palari Films, resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 4 Juni 2026. Dibintangi oleh Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Didik Nini Thowok, Sal Priadi, dan Kev, film ini menawarkan horor fantasi retro yang berbeda dari tren horor Indonesia pada umumnya. Alih-alih mengandalkan unsur supranatural, film ini mengeksplorasi ketakutan yang lahir dari rutinitas dan tekanan dunia kerja.

Edwin menghadirkan teror melalui atmosfer pabrik rambut yang ganjil dan menyesakkan. Terinspirasi oleh film horor Indonesia era 1980-an, ia membangun ketegangan lewat nuansa visual, practical effect, dan desain produksi yang detail. Bersama penata artistik Menfo Tantono, Studio PFN disulap menjadi pabrik rambut lengkap dengan rambut asli, manekin, prostetik, dan berbagai elemen produksi yang menciptakan suasana menyeramkan sekaligus unik.

Diproduseri oleh Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy, Monster Pabrik Rambut merupakan proyek ko-produksi lima negara: Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis. Sebelum tayang di Indonesia, film ini telah melakukan pemutaran perdana dunia di Berlin International Film Festival 2026 dan berkeliling ke sejumlah festival internasional seperti Brussels Fantastic Film Festival serta Hong Kong International Film Festival 2026.

Secara tematik, film ini menjadi kritik terhadap budaya kerja berlebihan atau hustle culture yang kerap dinormalisasi. Melalui kisah para pekerja pabrik yang kelelahan, kurang tidur, dan berada dalam sistem kerja yang eksploitatif, Monster Pabrik Rambut menggambarkan bagaimana tekanan pekerjaan dapat menjadi sumber horor yang nyata. Sosok Bos Maryati yang diperankan Didik Nini Thowok menjadi representasi sistem yang tampak ramah di permukaan, namun menyimpan praktik eksploitasi terhadap para pekerjanya.

Di sisi lain, film ini juga menampilkan elemen fantasi yang eksentrik khas Edwin, termasuk karakter Bona yang diperankan Iqbaal Ramadhan. Karakter tersebut digambarkan sebagai sosok unik yang mampu meregenerasi tubuhnya dan menjadi simbol perlawanan terhadap standar produktivitas yang tidak manusiawi. Dengan kombinasi horor atmosferik, practical effect tanpa CGI, kritik sosial, dan sentuhan fantasi yang berani, Monster Pabrik Rambut hadir sebagai salah satu tawaran horor Indonesia yang paling berbeda dan eksperimental tahun ini.